PENDIDIKAN
KARAKTER PADA ANAK USIA DINI MELALUI PENDIDIKAN INKLUSI
Studi Pada
Pendidikan Anak Usia Dini Rumah Citta Yogyakarta
PENDAHULUAN
Sekolah
adalah salah satu lembaga yang bertanggungjawab terhadap pembentukan karakter
pribadi anak (character building), karenanya disini peran dan kontribusi
guru sangat dominan. Sebagai suatu lembaga, sekolah memiliki tanggung jawab
moral bagaimana anak didik itu pintar dan cerdas sebagaimana diharapkan oleh
orang tuanya. Tugas seorang guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik
anak, sehingga anak tidak hanya memiliki kecerdasan kogntif, tetapi juga
memiliki karakter yang baik. Ini merupakan tujuan dari pendidikan, yaitu
menciptakan keluaran kesejahteraan lahir dan batin, terbentuknya manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi
pekerti luhur, sejahtera lahir dan batin, terampil dan memiliki jiwa kebangsaan
(Keosoemo, 2007).
Tujuan
pendidikan di atas menunjukkan bahwa budi pekerti merupakan salah satu sifat
yang diharapkan dimiliki oleh siswa sebagai peserta didik. Oleh karena itu budi
pekerti sedini mungkin sudah diperkenalkan pada anak didik untuk menghasilkan
sumber daya yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan. Budi pekerti lebih
menitikberatkan pada watak, perangai, perilaku atau dengan kata lain tata krama
dan etika. Jadi, pendidikan budi pekerti secara sederhana diartikan sebagai
penanaman nilai-nilai akhlak, tata krama, bagaimana berperilaku yang baik
kepada seseorang. Pada perkembangannya, pendidikan budi pekerti tidak lagi
cukup untuk membentuk peserta didik yang memiliki kepribadian yang baik
(Isjoni, 2006). Dibutuhkan pendidikan budi pekerti yang tidak hanya melibatkan
relasi sosial anak, tetapi juga melibatkan pengetahuan, perasaan dan perilaku
anak yang berada dalam ranah pendidikan karakter.
Pembentukan
karkater (character building) dapat dilakukan melalui pendidikan budi
pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive),
perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tanpa ketiga aspek
ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter,
seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal
terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya
seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk
tantangan untuk berhasil secara akademis.
Isu mengenai
pendidikan karakter di Indoensia mulai mencuat pada tahun 2004 seiring dengan
mulai berkembangnya sistem pendidikan inklusi yaitu sistem pendidikan yang memungkinkan
anak-anak berkebutuhan khusus ikut berbaur dalam kelas reguler bersama
anak-anak normal. Dalam hal ini anak-anak berkebutuhan khusus yang dimasukkan
dalam kelas reguler adalah anak-anak berkebutuhan khusus pada tingkat tertentu
yang dianggap masih dapat mengikuti kegiatan anak-anak lain meski memiliki
berbagai keterbatasan.
Pengamatan
yang dilakukan di lapangan, pada pendidikan anak usia dini yang menerapkan
sistem pendidikan inklusi, dilihat adanya kecenderungan anak memiliki empati
yang lebih besar pada anak-anak berkebutuhan khusus dibandingkan dengan
anak-anak lain yang sekolah dengan sistem eksklusif. Ini menunjukkan bahwa
interaksi anak-anak normal dengan anak berkebutuhan khusus dalam kelas inklusif
mampu menumbuhkan karakter anak. Selain itu, kompetensi sosial anak
berkebutuhan khusus mengalami kemajuan, terutama dalam hal kepercayaan diri
sehingga mampu berbaur dengan anak-anak normal lainnya. Hasil pengamatan
tersebut menunjukkan bahwa secara tidak langsung pendidikan inklusi membawa dampak
pada karakter anak. Hal inilah yang menjadi pusat pengamatan dalam studi kasus
ini yaitu untuk melihat bagaimana perkembangan karakter anak-anak dalam kelas
inklusi yang difokuskan pada perkembangan empati anak. Tujuan yang ingin
dicapai dari studi ini adalah untuk mengetahui perkembangan karakter anak-anak
dalam kelas inklusi. Hasil pengamatan tersebut akan bermanfaat sebagai evaluasi
penerapan sistem pendidikan inklusi untuk mengembangkan karakter anak pada usia
dini.
PENDIDIKAN KARAKTER DAN EMPATI
Karakter
adalah sesuatu yang tidak dapat dikuasai oleh intervensi manusia. Oleh karena
itu, berhadapan dengan apa yang memiliki karakter, manusia tidak dapat ikut
campur tangan atasnya (Koesoema, 2007). Pendidikan karakter mempunyai makna
lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang
benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan
kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga siswa didik
menjadi faham (domain kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu
merasakan (domain afektif) nilai yang baik dan mau melakukannya
(domain psikomotor). Dalam pendidikan karakter, Lickona (1992)
menekankan pentingya tiga komponen karakter yang baik (components of
good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral,
moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau
perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami,
merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. Moral action
atau perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua
komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang
dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek
lain dari karakter yaitu : 1) kompetensi (competence), 2) keinginan (will)
dan 3) kebiasaan (habit). Seorang anak tidak akan dapat melakukan
tindakan moral bila ia tidak memiliki kompetensi sosial, berkeinginan dan
terbiasan melakukannya. Tindakan moral merupakan sesuatu yang harus dibiasakan
pada diri anak sehingga menjadi bagian dari karakternya (Sjarkawi, 2006).
Moral action
yang dapat
diamati salah satunya adalah empati. Kamus Psikologi (Kartono, 1987) memberikan
definisi empati sebagai pemahaman terhadap pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan orang lain dengan cara menemaptkan diri ke dalam kerangka
pedoman psikologis orang lain tersebut. Empati merupakan salah satu kecakapan
seseorang dalam memahami pikian dan perasaan orang lain sedemikian pula
sehingga seseorang itu biasa tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain
itu, dan selanjutnya seseorang tersebut dapat bersikap bijak sesuai dengan
pikiran, perasaan dan kei8nginan orang lain tersebut tanpa mengorbankan emosi
atau perasaan diri sendiri.
Empati
berkenaan dengan sensitivitas yang bermakna sebagai suatu kepekaan rasa
terhadap hal-hal yang berkaitan secara emosional. Kepakaan rasa ini adalah
suatu kemampuan dalam bentuk mengenali dan mengerti perasaan orang lain. Dalam
kehidupan sehari-hari, sensitivitas terdapat pada kemampuan bertenggang-rasa.
Ketika tenggang sudah muncul pada diris eseorang maka akan diikuti dengan
munculnya sikap penuh pengertian dan peduli pada sesama (Setyawati, dkk. 2007:
2).
PENDIDIKAN INKLUSI
Pendidikan
inklusi merupakan perkembangan terkini dari model pendidikan bagi anak berkelainan
atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan prinsip “selama memungkinkan,
semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun
perbedaan yang mungkin ada pada mereka.” Model pendidikan khusus tertua
adalah model segregasi yang menempatkan anak berkelainan di sekolah-sekolah
khusus, terpisah dari teman sebayanya. Sekolah-sekolah ini memiliki kurikulum,
metode mengajar, sarana pembelajaran, system evaluasi, dan guru khusus. Dari
segi pengelolaan, model segregasi memang menguntungkan, karena mudah bagi guru
dan administrator. Namun demikian, dari sudut pandang peserta didik, model
segregasi merugikan karena model segregatif tidak menjamin kesempatan anak
berkelainan mengembangkan potensi secara optimal, karena kurikulum dirancang berbeda
dengan kurikulum sekolah biasa. Selain itu, secara filosofis model segregasi
tidak logis, karena menyiapkan peserta didik untuk kelak dapat berintegrasi
dengan masyarakat normal, tetapi mereka dipisahkan dengan masyarakat normal.
Kelemahan lain yang tidak kalah penting adalah bahwa model segregatif relatif
mahal sehingga dikembangkan sistem pendidikan inklusi.
Pendidikan
inklusi bertujuan memungkinkan guru dan peserta didik merasa nyaman dalam
keragaman, dan memandang keragaman bukan sebagai masalah, namun sebagai
tantangan dan pengayaan bagi lingkungan belajar. Semua karakteristik pendidikan
inklusi di atas berimplikasi pada perubahan dan modifikasi pada materi,
pendekatan, struktur dan strategi, dengan suatu visi umum yang mengkover semua
peserta didik dan suatu pengakuan atau kesadaran bahwa menjadi tanggung jawab
sistem reguler untuk mendidik semua peserta didik.
Pendidikan
inklusi adalah hak asasi manusia, di samping merupakan pendidikan
yang baik dan dapat menumbuhkan rasa sosial. Itulah ungkapan yang
dipakai untuk menggambarkan pentingnya pendidikan inklusi. Ada beberapa argumen
di balik pernyataan bahwa pendidikan inklusi merupakan hak asasi manusia:
(1) semua anak memiliki hak untuk belajar bersama; (2) anak-anak seharusnya
tidak dihargai dan didiskriminasikan dengan cara dikeluarkan atau disisihkan
hanya karena kesulitan belajar dan ketidakmampuan mereka; (3) orang dewasa yang
cacat, yang menggambarkan diri mereka sendiri sebagai pengawas sekolah khusus,
menghendaki akhir dari segregrasi (pemisahan sosial) yang terjadi selama ini;
(4) tidak ada alasan yang sah untuk memisahkan anak dari pendidikan mereka,
anak-anak milik bersama dengan kelebihan dan kemanfaat untuk setiap orang, dan
mereka tidak butuh dilindungi satu sama lain (CSIE, 2005).
HASIL
Rumah Citta
merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang mengembangkan lingkungan
belajar inklusif. Nilai- nilai yang dikembangkan di PAUD Rumah Citta antara
lain adalah sebagai berikut: 1) pendidikan untuk semua kalangan yang
diterjemahkan dalam bentuk subsidi silang dan lingkungan belajar inklusif, 2)
nilai tradisional, 3) ramah lingkungan dan keberpusatan pada anak.
Observasi
yang dilakukan di PAUD Rumah Citta, Yogyakarta menunjukkan hasil sebagai
berikut:
- Semakin banyak anak yang mau bermain dan membantu teman yang berkebutuhan khusus
- Pendidik terbiasa lebih detil melihat kebutuhan anak dan merancang pembelajaran yang sesuai
- Semua anak, dengan berbagai karakteristik dan latar belakangnya, dapat membangun sendiri pemahamannya tentang anak berkebutuhan khusus
- Anak-anak, baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus belajar melalui interaksi dengan anak lain dan guru serta lingkungan.
- Anak-anak berkebutuhan khusus mampu meningkatkan kompetensi sosial, terutama dalam hal interaksi dengan anak-anak lain.
PEMBAHASAN
Hasil
penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa anak-anak normal dalam kelas
inklusi memiliki tingkat empati yang lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh
kesediaan anak-anak normal untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus di dalam
kelas. Anak-anak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian dan
menunjukkan kesediaan untuk berbaur dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak normal menunjukkan kecenderungan sikap penuh pengertian pada anak
berkebutuhan khusus sehingga mampu memberikan toleransi dan bersedia memberikan
bantuan.
Penuh
pengertian merupakan dasar dari sikap empati. Penuh pengertian melibatkan
komponen kognitif maupun afektif. Komponen kognitif mencakup kemampuan
seseorang untuk mengetahui, mengenali, memahami dan mengerti apa yang terjadi
apda orang lain. Sedangkan komponen afektif merupakan kemampuan dalam turut
serta merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dalam pendidikan, anak perlu
dilatih untuk dapat mengenali perasaannya sendiri dan membedakan berbagai macam
perasaan yang dialaminya.
Penuh
pengertian merupakan dasar dari sikap empati. Penuh pengertian melibatkan
komponen kognitif maupun afektif. Komponen kognitif mencakup kemampuan
seseorang untuk mengetahui, mengenali, memahami dan mengerti apa yang terjadi
apda orang lain. Sedangkan komponen afektif merupakan kemampuan dalam turut
serta merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dalam pendidikan, anak perlu
dilatih untuk dapat mengenali perasaannya sendiri dan membedakan berbagai macam
perasaan yang dialaminya.
Lingkungan
kelas inklusi dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus maupun anak-anak
normal. Hal ini dilakukan oleh sekolah dengan merumuskan kurikulum yang luwes untuk
semua anak meliputi: indikator perkembangan minimal dan pembelajaran dengan
beragam metode dan kegiatan yang memungkinkan anak untuk banyak melakukan
eksplorasi, berinteraksi dengan banyak pihak, sesuai dengan minat dan kemampuan
anak didik serta dilakukannya evaluasi menyeluruh yang meliputi proses
pelaksanaan dan hasil yang dicapai. Usaha tersebut dilakukan untuk menciptakan
lingkungan kelas inklusi yang dapat mengakomodasi kebutuhan anak berkebutuhan
khusus dalam interaksinya dengan anak-anak normal. Untuk mengukur kadar rasa
empati, para peneliti melihat bagaimana anak-anak tersebut bereaksi terhadap
anak-anak berkebutuhan khusus dalam kegiatan bermain dan kegiatan kelas lain di
mana anak berkebutuhan khusus sulit untuk melakukan aktivitasnya tanpa bantuan.
Misalnya, seperti ditunjukkan pada Gambar 1 (a), seorang anak berkebutuhan
khusus (autis) membutuhkan bantuan untuk melewati titian balok.
Pada usia
pra sekolah (sekitar usia 4-5 tahun) anak-anak yang agresif dan perusuh
menunjukkan rasa peduli yang sama dengan teman-teman mereka. Mayoritas dari
anak-anak normal di PAUD Ruman Citta menunjukkan rasa peduli mereka pada
anak-anak berkebutuhan khusus. Hal ini merupakan hasil pembiasaan dalam
lingkungan inklusi. Anak-anak menjadi terbiasa melihat kebutuhan anak-anak lain
yang tidak sama dengan dirinya. Kesediaan untuk membantu anak-anak berkebutuhan
khusus ditanamkan dalam kelas inklusi sehingga dalam diri anak tumbuh empati
yang lebih besar.
Anak-anak
berkebutuhan khusus yang sebelumnya dideskripsikan sebagai pribadi yang
antisosial secara bertahap mampu mengembangkan kemampuannya berinteraksi dengan
anak lain dan lingkungan. Anak-anak menunjukkan kepedulian mereka terhadap
sesama melalui keramahan, kesediaan bermain bersama, dan penerimaan, khususnya
terhadap anak-anak yang berkebutuhan khusus. Peneliti berpendapat bahwa respons
ini merupakan reaksi terhadap sistem pembelajaran inklusi yang diterapkan di
dalam kelas yang memungkinkan anak-anak normal melakukan interaksi dengan
anak-anak berkebutuhan khusus.
Peneliti
juga memperhatikan bahwa anak-anak di Rumah Citta yang memiliki masalah
perilaku menjadi berkurang sikap agresifnya jika mereka diajarkan untuk peduli
terhadap sesama. Menanamkan rasa kepedulian kepada anak-anak adalah cara yang
baik untuk menghilangkan masalah perilaku pada anak-anak yang cenderung agresif
atau perusuh pada usia dini. Empati pada anak-anak berkebutuhan khusus yang
ditanamkan pada anak-anak dengan masalah perilaku atau anak-anak yang sering
disebut nakal mampu mengurangi tingkat agresi yang dilakukan anak-anak ketika
mereka berada di lingkungan kelas inklusi.
KESIMPULAN
Kesimpulan
yang dapat ditarik adalah sistem pendidikan inklusi dapat meningkatkan kualitas
karakter anak pada usia dini, khususnya dalam hal empati. Anak menunjukkan
perhatian pada anak-anak berkebutuhan khusus yang memunculkan kesediaan untuk
membantu dan diikuti oleh tindakan moral dengan membantu mereka. Kondisi ini
tercapai dengan cara menanamkan kepedulian pada sesama dalam lingkungan belajar
yang inklusif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar